Foto: sindikasi

'Amplop' untuk Penghulu Dinilai Gratifikasi

👤Oleh Tim Redaksi Nabawia 🕔04/12/2013 13:51:15

Pemberian amlop kepada penghulu ketika menikahkan pasangan mempelai di luar balai nikah (KUA) masih bergulir. Jika aparat penegak hukum menganggap pemberian itu gratifikasi, maka wakil rakyat menganggap itu sebagai bisyaroh (hadiah).

"Ini memang fenomena. Tentunya, saya menyangkan ada salah satu Kepala KUA yang diperiksa gara-gara menerima pemberian usai menikahkan pasangan di luar balai nikah. Kalau saya melihat itu bukan gratifikasi," kata Ketua Komisi E DPRD Jatim, Sugiri Sancoko, Rabu (4/12).

Ia menganggap, dalam menikahkan pasangan mempelai ini, penghulu juga memberikan khutbah nikah. Ibarat kata, seorang penghulu juga merangkap sebagai seorang penceramah atau dai. Jadi sangat wajar jika tuan rumah memberikan hadiah sebagai ganti uang transport.

"Dia (penghulu) juga berjasa kok. Menikahkan orang, memberi khutbah nikah, kalau bisyaroh dianggap gratifikasi ya mau gimana lagi. Saya sangat menyayangkan," ujar Sugiri.

Ia juga sependapat, ketika ada wacana aturan yang jelas terhadap biaya nikah. Artinya, aturan tersebut harus mengakomodir segala kepentingan. Baik soal biaya atau yang lain. Sehingga ke depan, payung hukum tidak abu-abu seperti ini yang malah menuai polemik.

"Dijelaskan, kalau menikah di dalam dan di luar balai nikah berapa. Termasuk pengganti transport pak penghulu. Sehingga, sangat jelas dan tidak menimbulkan polemik seperti ini," katanya.

Lebih jauh Giri juga menyebut, munculnya, fenomena ini memang secara bersamaan. Sebelumnya, sejumlah dokter juga melakukan aksi mogok karena salah satu rekannya merasa dikriminalisasi. Belum tuntas persoalan itu, muncul lagi fenomena penghulu yang juga mogok tidak mau menikahkan pasangan di luar balai nikah. 

"Intinya harus ada kepastian hukum dan tegaknya aturan," tukasnya.

Sebelumnya, sebanyak 661 KUA se-Jatim melakukan deklarasi mengancam untuk tidak menikahkan pasangan mempelai di luar balai nikah. Hal itu menyusul terseretnya, Kepala KUA Kota Kediri karena kasus dugaan gratifikasi dan diperiksa oleh Kejaksaan Negeri setempat. (pm/sindo)
 

Lainnya

Anak Yatim ini Harus Kerja Keras Demi Berlebaran

Salah satu warga Rengat, Kabupaten Indragiri Hulu, Riau, Indra Lesmana (14), adalah anak yatim yang ..

Kemacetan di Cicalengka-Nagreg Sudah Terurai

Kemacetan di jalur selatan Jawa Barat di kawasan Jalan Raya Cicalengka-Nagreg akhirnya dapat terurai hingga ..

Alhamdulillah, Jembatan Cibaruyan Ciamis Sudah Bisa dilewati Pemudik

Jembatan Cibaruyan di daerah Ciamis, Jawa Barat, sudah bisa dilewati oleh para pemudik setelah dipasangi ..

Larso Marbun Akan Evaluasi Perihal Aturan Seragam Baru di Sekolah

Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta, Lasro Marbun, akan mengevaluasi kembali perihal aturan penggunaan seragam khas ..

Ini Tanggapan Ahok Soal Penghapusan Seragam Muslim di Sekolah

Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama 'Ahok' membantah dirinya telah membuat kebijakan tentang penghapusan ..

Antrean Panjang Pemudik Sepeda Motor di Pelabuhan Merak

Pemudik bersepeda motor pada Sabtu atau dua hari jelang (H-2) Idul Fitri 1435 Hijriyah mengantre ..

Prabowo: Kita Rayakan Idul Fitri dengan Baik dan Damai

Pasangan capres-cawapres dari koalisi Merah Putih, Prabowo Subianto-Hatta Rajasa, resmi mengajukan gugatan ke Mahkamah Konstitusi ..

Selengkapnya

Komentar

'Amplop' untuk Penghulu Dinilai Gratifikasi